Berita
Gemar Membaca sejak Kecil, Ingin jadi Diplomat
Tanggal : 06/20/2010, 21:20:13, dibaca 65 kali.
Belajar dengan enjoy menjadi kunci keberhasilan Muh Rofiul Hamam dalam UASBN. Siswa SDN Bogokidul, Kecamatan Plemahan itu mampu meraih nilai 28,50, tertinggi di Kabupaten Kediri.
Bagaimana cara belajar yang efektif? Muh Rofiul Hamam punya cara sendiri. Siswa SDN Bogokidul, Kecamatan Plemahan ini tak pernah ngoyo dalam belajar. "Dalam sehari saya hanya belajar bakda maghrib,'katanya ditemui di sekolahnya kemarin.
Belajar yang dimaksud Ufik, demikian dia biasa disapa, adalah dengan menghafal atau mengutak-atik rumus matematika. Di luar itu, putra pasangan Supanji-Umi Makrufah ini terbiasa 'melahap' buku dari berbagai disiplin ilmu.
Membaca memang menjadi hobinya. Mulai buku sains, sejarah, matematika, hingga grammar bahasa Inggris, biasa dibacanya saat senggang. Bahkan, sejak duduk di kelas I SD, dia sudah terbiasa membaca koran. Saking senangnya membaca, secara tak sadar dia telah mempelajari berbagai jenis ilmu, "Buku itu jendela dunia. Saya bisa tahu banyak hal dari sana," ungkapnya ketika ditanya alasannya gemar membaca.
Umi Makrufah, ibu Ufik, yang kemarin menemaninya membenarkan kegemaran putra kesayangannya. Menurut, hobi membaca Ufik sudah terlihat sejak kecil. Meski belum bisa membaca, dia senang sekali mengamati globe (bola dunia) dan menghafal setiap negara yang ada di sana.
Setelah duduk di bangku SD, Ufik semakin kecanduan membaca. Seluruh buku yang ditemui selalu dibaca sampai habis. "Saya tidak pernah menyuruh, dia sudah membaca dengan sendirinya," kata perempuan yang juga mengajar agama di SDN Bogokidul.
Dengan kegemarannya itu, bocah kelahiran 11 Desember 1997 itu tak pernah merasa terbebani saat belajar. Saking enjoy-nya, dia tak menyadari telah belajar setiap mempunyai waktu senggang. Baginya, jadwal belajarnya adalah malam hari selepas maghrib. Padahal, di luar itu, secara tak sengaja dia seringkali membaca buku yang juga pelajarannya tiap hari.
Inilah yang membuat dia bisa santai menghadapi UASBN. Bocah yang gemar bermain sepak bola ini tinggal menambah jatah belajarnya.
Jika semula hanya selepas maghrib, ditambah setelah subuh. Itupun dia tinggal mengulangi materi yang pernah dipelajari sebelumnya.
Rupanya, cara belajar itu sangat efektif baginya. Buktinya, dalam UASBN April lalu, pemuda asal Dusun Mulyoasri, Desa Bogokidul, Kecamatan Plemahan itu mampu meraih nilai 28,50. Nilai yang tertinggi se-Kabupaten Kediri. Rinciannya, matematika 10,00, bahasa Indonesia 9,00, dan IPA 9,50. "Saya kaget, tak pernah menyangka akan mendapat nilai tertingg," tuturnya tersenyum.
Walaupun sudah menjadi langganan juara sejak kelas I, prestasi yang baru diraih Ufik itu tetap mengejutkannya. Di SDN Bogokidul, prestasi sulung dari dua bersaudara ini memang sudah teruji. Sebab, sejak duduk di kelas satu, dia selalu juara kelas. Selama di SD, dia hanya sekali meraih juara 2. Yaitu, saat duduk di kelas 3. Selebihnya, dia selalu meraih juara I.
Tak hanya itu, Ufik juga telah mengantongi belasan piagam dari berbagai lomba. Mulai lomba pengetahuan umum, international mathematic and science ilympiad (IMSO), lomba cerdas cermat, hingga lomba pemilihan dai cilik (pildacil), "Tapi, saya tetap tak menyangka bisa mereaih nilai tertinggi," lanjutnya merendah.
Kepandaian pemuda yang juga anak pengurus parpol di Kediri ini juga terlihat dalam seleksi penerimaan siswa baru (PSB) di MTsN 2 Kota Kediri. Meski kelulusannya belum diumumkan, Ufik sudah diterima di kelas akselerasi. Dia pun mulai menerima pelajaran sejak Selasa (15/06) lalu.
Di sekolah barunya, Ufik bertekad untuk tetap berprestasi seperti halnya di sekolah dasar. Meski, di MTs 2 dia harus bersaing dengan ratusan siswa terpilih lainnya, "Saya yakin bisa. Saya ingin menjadi diplomat nanti," tegasnya.
Apakah dia tidak tertarik menekuni politik seperti yang dilakukan ayahnya? Ufik langsung menggeleng. Dia mengaku tak tertarik dengan dunia politik. Alasannya, iklim politik saat ini sudah berbeda dengan beberapa tahun lalu, "Saya lebih suka diplomat, bisa keliling dunia dan tidak ada korupsi,"katanya lugu.
Untuk meraih cita-citannya, Ufik sudah mempersiapkan beberapa hal. Mulai menghafal vocabulary atau kosa kata bahasa Inggris, bahasa Arab, dan mempelajari beberapa bahasa lainnya. Itulah yang membuat Ufik tak kesulitan masuk ke MTs meski dirinya tak berasal dari madrasah.
Sementara itu, kesuksesan Ufik meraih nilai UASBN tertinggi di Kabupaten Kediri juga membuat sekolahnya bangga. Kepala SDN Bogokidul, Warsiati mengaku bangga sekaligus terkejut dengan prestasi siswanya. Perempuan berambut sebahu itu mengaku sempat menangis saat diberitahu Ufik menjadi juara.
Prestasi Ufik, katanya, menjadi penyemangat sekolah agar ke depan bisa lebih baik lagi dari tahun ini. "Biasanya, peraih nilai tertinggi selalu sekolah di Pare. (Prestasi Ufik, Red) ini menjadi kado bagi saya sebelum pensiun,"kata Warsiati yang pensiun 2012 nanti.
Perempuan berusia 58 tahun itu mengatakan, sebelum UASBN, sekolahnya berupaya maksimal menyiapkan siswa. Caranya, dengan memberi les tambahan khusus pelajaran yang diujikan. Berkat kerja keras tersebut, seluruh siswa kelas VI SDN Bogokidul mendapat nilai yang memuaskan.(*)
(radarkediri.co.id,19/6/2010)
Kembali ke Atas
Berita Lainnya : |
| Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas |
Komentar :
Kembali ke Atas
Visitors : 5455 visitors
Today : 35 users